Kebumen, Kilaskebumen.com – Proses penjaringan perangkat desa di Desa Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, berlangsung dengan cara yang berbeda dari biasanya. Jika umumnya ujian teori dilakukan secara tertulis menggunakan lembar soal, kali ini panitia menggunakan sistem Computer Based Test (CBT) yang mirip dengan Computer Assisted Test (CAT) dalam seleksi CPNS.

Melalui sistem ini, peserta mengerjakan soal dan menjawabnya langsung melalui komputer. Setelah menyelesaikan ujian, peserta juga dapat langsung mengetahui skor atau nilai yang diperoleh.

Pelaksanaan tes CBT tersebut digelar di Laboratorium Komputer SMA Negeri Kutowinangun pada Selasa (10/3/2026). Proses penjaringan turut diawasi oleh unsur Forkopimcam Kutowinangun, Dispermades Kebumen, serta Inspektorat Kabupaten Kebumen.

Kepala Desa Kutowinangun, Fahmi Huda mengatakan, total terdapat 29 peserta yang mengikuti penjaringan untuk mengisi empat formasi perangkat desa.

Adapun formasi yang dibuka yakni Kepala Dusun (Kadus) Kauman, Kadus Jebor Kulon, Kadus Jagalan, serta Kepala Seksi Kesejahteraan (Kasi Kesra).

“Sebanyak 17 orang melamar untuk posisi kadus, sedangkan 12 orang melamar untuk posisi Kasi Kesra. Dan rata-rata usia mereka masih muda,” jelas Fahmi.

Ia menuturkan, penggunaan sistem CBT merupakan inisiatif pemerintah desa bersama panitia penjaringan. Metode serupa juga pernah diterapkan dalam penjaringan perangkat desa pada tahun sebelumnya.

Menurutnya, sistem ini dipilih untuk memastikan proses seleksi berlangsung lebih transparan serta mampu mengukur kemampuan peserta secara objektif.

“Ketika kami sampaikan tes teori ini menggunakan CBT, ternyata banyak warga yang tertarik untuk ikut. Karena keterbukaan dan kompetensi peserta bisa lebih terukur,” ujarnya.

Setelah mengikuti tes CBT, para peserta akan melanjutkan tahapan seleksi lainnya, yakni tes komputer, wawancara, serta tes pidato.

Fahmi menyebut seluruh rangkaian tes dijadwalkan selesai dalam satu hari, dan hasil seleksi akan diumumkan pada sore hari setelah seluruh tahapan selesai dilaksanakan.

“Setelah tes CBT, selanjutnya tes komputer, lalu wawancara dan terakhir pidato. Saat ini perangkat desa memang harus mampu berbicara di depan masyarakat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *