KEBUMEN, Kilaskebumen.com – Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI) Kabupaten Kebumen menggelar peringatan Tanggap Warso 1 Suro 1960 Soko Jowo di Balai Pertemuan Warga Dukuh Bodeh, Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Rabu (17/6/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Staf Ahli Bupati Kebumen Yani Giat Setiawan, Forkopimcam Karanganyar, perangkat Desa Grenggeng, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta para penghayat kepercayaan. Acara diisi dengan kenduri bersama dan pagelaran karawitan sebagai upaya melestarikan tradisi budaya leluhur.

Mewakili Bupati Kebumen, Yani Giat Setiawan menyampaikan bahwa semangat menjaga amanah sejalan dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan dalam budaya Jawa, seperti hidup berintegritas, menghormati sesama, menjaga keseimbangan dengan alam, serta mengutamakan kemaslahatan bersama.

“Karena itu, saya mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk keluarga besar MLKI, untuk terus menjadi bagian dari pembangunan Kabupaten Kebumen. Mari kita rawat kerukunan, lestarikan budaya, jaga persaudaraan, serta tanamkan nilai-nilai kebajikan kepada generasi muda agar tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter dan mencintai daerahnya,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada MLKI Kabupaten Kebumen atas dedikasinya dalam menjaga nilai-nilai budaya, memperkuat persaudaraan, dan berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat di Kabupaten Kebumen.

Sementara itu, Sekretaris MLKI Kabupaten Kebumen menjelaskan bahwa peringatan Tahun Baru 1 Suro 1960 Saka Jawa kembali digelar oleh MLKI yang saat ini menaungi tujuh kelompok penghayat kepercayaan.

Tahun ini, peringatan mengangkat tema “Sirnaning Pangrasa Trus Manunggal”, yang dimaknai sebagai kesempurnaan dalam manembah atau bersujud kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang dapat dicapai dengan menyingkirkan serta mengendalikan pangrasa untuk menuju kemanunggalan dengan Sang Pencipta.

Menurutnya, tema tersebut mengandung harapan agar setiap individu mampu meredam angkara murka dalam dirinya sehingga dapat menjadi manusia yang lebih baik, waspada, rukun, dan harmonis dalam kehidupan bermasyarakat.

“Harapannya agar kita semua dapat meleremkan atau menyingkirkan angkara murka yang berada di pribadi kita masing-masing agar kita dapat menuju dalam kemanunggalan dengan yang maha kuasa sehingga menjadi manusia yang lebih baik waspada dan rukun serta harmonis di setiap kehidupan dan di masayarakat,” jelas Kadarsono.

Ia menambahkan, pagelaran karawitan yang ditampilkan mengandung nilai-nilai budaya luhur yang erat kaitannya dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Begitu pula berbagai tarian yang dipentaskan merupakan ekspresi dari hati yang jernih dan bersih, bukan dari hati yang dipenuhi angkara murka.

“Semoga hubungan antarwarga masyarakat semakin erat, saling menghargai, saling menghormati, hidup guyub, rukun, harmonis, dan pada akhirnya mewujudkan masyarakat Kabupaten Kebumen yang sejahtera,” katanya.

Ia juga berpesan kepada para penghayat kepercayaan agar tetap semangat karena pemerintah telah memberikan wadah yang jelas, dan masyarakat semakin memahami bahwa kepercayaan bukanlah bentuk ketiadaan agama, melainkan cara menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa melalui nilai-nilai budaya luhur warisan leluhur yang telah terbukti keberadaannya sepanjang sejarah.

Adapun tujuh paguyuban penghayat kepercayaan yang berada di bawah naungan Dewan Musyawarah Daerah (DMD) MLKI Kabupaten Kebumen, yakni Sapta Darma, Maneges, Paguyuban Jawa Sejati (Pajati), Masyarakat Pancasila (Mapan), Paguyuban Budaya Bangsa, Tri Luhur, dan Setia Budi 45.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *