PURWOREJO, Kilaskebumen.com — Berulangnya kasus hiu paus terdampar di pesisir selatan Purworejo mendorong perlunya penanganan yang lebih terarah. Sejak 2016, sedikitnya tujuh kasus tercatat di wilayah ini. Pemerintah daerah bersama Yayasan SeaLife Indonesia kini berupaya memperkuat kemampuan nelayan dan petugas agar satwa dilindungi tersebut tidak salah ditangani saat ditemukan di pantai.

Upaya itu dilakukan melalui Pelatihan Penanganan Hiu Paus dan Biota Laut Terdampar yang digelar Yayasan SeaLife Indonesia bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (DLHP) Purworejo, Selasa-Rabu (20–21/10/2026). Kegiatan dipusatkan di Aula Balai Desa Keburuhan, Kecamatan Ngombol, dengan melibatkan nelayan dan sejumlah instansi terkait.

Direktur Yayasan SeaLife Indonesia, Retno Kusuma Ningrum, mengungkapkan bahwa sepanjang 2026 telah tercatat 24 kasus hiu paus terdampar di Indonesia. Wilayah Jawa menjadi salah satu kawasan dengan kejadian terbanyak, termasuk Purworejo.

“Hiu paus terdampar sering terjadi di wilayah Indonesia. Tahun ini sudah ada 24 kasus, paling banyak terjadi di wilayah Jawa dan Purworejo sejak 2016 sudah ada tujuh kasus. Ini terbanyak di wilayah Jawa,” ujarnya.

Menurut Retno, hiu paus menghadapi berbagai ancaman, mulai dari kejadian terdampar hingga aktivitas manusia dan sampah laut. Sementara itu, populasi hiu paus di dunia juga dilaporkan terus mengalami penurunan.

Ia menegaskan, setiap kejadian hiu paus terdampar membutuhkan respons cepat dengan prosedur yang sesuai kondisi satwa. Jika masih hidup, penanganan harus diarahkan agar satwa dapat dilepasliarkan secara tepat dan aman. Adapun satwa yang ditemukan mati perlu ditangani dengan prosedur yang memungkinkan pemeriksaan lebih lanjut.

“Tujuan utama adalah bisa melatih teman-teman, masyarakat pesisir dari lintas instansi itu bagaimana cara penanganan hiu yang terdampar dalam kondisi hidup maupun mati,” jelas Retno.

Ia berharap pelatihan tersebut membuat masyarakat memahami langkah yang harus dilakukan ketika menemukan hiu paus terdampar, sekaligus menghindari tindakan yang justru membahayakan satwa maupun orang yang menanganinya.

Dulu Daging Hiu Terdampar Dibagikan ke Warga

Kepala DLHP Purworejo, Eko Setyo Husodo, mengatakan kejadian hiu paus dan biota laut terdampar bukan hal baru bagi kawasan pantai selatan Purworejo. Selama ini, satwa yang ditemukan terdampar umumnya sudah mati sehingga penanganan yang dilakukan antara lain penguburan bersama pihak terkait dan masyarakat.

Eko mengakui, pengetahuan mengenai penanganan hiu paus masih perlu ditingkatkan. Ia membandingkan kondisi saat ini dengan kebiasaan masyarakat pada era 1990-an, ketika hiu yang terdampar terkadang dipotong dan dagingnya dibagikan kepada warga.

“Untuk penanganan hiu paus kita masih awam. Dulu di tahun 90-an bahkan, hiu yang terdampar itu dipotong dan dagingnya dibagi-bagikan kepada masyarakat yang mau,” kata Eko.

Kini, pemahaman masyarakat mengenai satwa yang dilindungi mulai berkembang. Hiu paus menjadi salah satu satwa yang tidak boleh diperlakukan sembarangan, termasuk dikonsumsi.

Eko menilai, panjangnya garis pantai Purworejo membuat kesiapan penanganan menjadi penting. Wilayah pesisir kabupaten ini membentang sekitar 21 kilometer dari perbatasan Kebumen hingga Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, meliputi Kecamatan Grabag, Ngombol, dan Purwodadi.

Karena itu, ia berharap pelatihan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi juga menghasilkan standar operasional prosedur (SOP) yang bisa dijadikan acuan saat terjadi kejadian di lapangan. Ketersediaan peralatan penanganan juga dinilai perlu diperhatikan.

“Dengan pelatihan ini mudah-mudahan bisa membuat jejaring yang solid dalam rangka penanganan hiu paus dan biota laut terdampar secara tepat,” ujarnya.

Penyebab Terdampar Masih Perlu Diteliti

Retno mengatakan, penyebab hiu paus terdampar tidak bisa disimpulkan secara sederhana. Fenomena alam diduga menjadi salah satu faktor, tetapi aktivitas manusia juga berpotensi memperburuk kondisi satwa.

Untuk mengetahui penyebab secara lebih jelas, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk nekropsi terhadap satwa yang ditemukan mati oleh tim dokter hewan.

“Mungkin ada kejadian fenomena alam plus juga aktivitas manusia yang memperparah itu. Jadi nanti mungkin bisa ditunggu hasil nekropsi dari teman-teman tim dokter hewan yang terlibat selama ini,” katanya.

Selain memperkuat keterampilan teknis, pelatihan ini diharapkan membangun koordinasi antara pemerintah, instansi terkait, dan masyarakat pesisir. Keterlibatan nelayan dinilai penting karena mereka berada dekat dengan kawasan pantai dan berpotensi menjadi pihak pertama yang menemukan satwa terdampar.

Dengan pemahaman prosedur yang lebih baik dan koordinasi yang solid, penanganan hiu paus maupun biota laut lainnya di pesisir Purworejo diharapkan semakin cepat, aman, dan mendukung upaya perlindungan satwa laut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *