KEBUMEN, Kilaskebumen.com – Di tengah kesibukannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen, Juniadi Prasetiyo membuktikan bahwa keterbatasan waktu bukan halangan untuk berwirausaha. Ia sukses menekuni usaha peternakan telur puyuh yang kini berkembang pesat dan menjadi salah satu pemasok telur puyuh ke luar daerah.

Usaha peternakan telur puyuh milik Juniadi berlokasi di Desa Kambangsari, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen. Usaha ini telah dirintis hampir satu tahun dan terus mengalami peningkatan kapasitas produksi.

“Saat ini di kandang ada sekitar 15 ribu ekor puyuh petelur. Awalnya saya mulai dari 5 ribu ekor, kemudian bertambah menjadi 10 ribu, dan sekarang 15 ribu ekor. Ke depan, saya berencana membuka kandang baru di lokasi lain dengan tambahan 15 ribu ekor lagi,” ujar Juniadi saat dktemui di kandang puyuh, Minggu 14 Desember 2025.

Ketertarikannya menekuni usaha ini berawal dari hobi di bidang peternakan. Ia juga telah berpengalaman mengelola peternakan ayam broiler dengan kapasitas hingga 40 ribu ekor.

“Saya melihat peluang telur puyuh cukup besar. Permintaannya tinggi, terutama untuk kebutuhan luar kota. Itu yang mendorong saya mencoba dan akhirnya serius mengembangkan usaha telur puyuh,” jelasnya.

Dari 15 ribu ekor puyuh tersebut, produksi telur mencapai lebih dari 1 kuintal hingga 1,5 kuintal per hari atau sekitar 150 kilogram. Dengan harga pasaran saat ini yang mencapai Rp30 ribu per kilogram untuk pengambilan langsung di kandang, omset kotor per bulan bisa menembus angka lebih dari Rp100 juta.

“Kalau dihitung kasar, sehari produksi satu setengah kuintal dikali harga sekarang. Setelah dikurangi pakan, operasional, dan dua karyawan tetap, masih ada sisa keuntungan sekitar Rp30 jutaan per bulan,” ungkapnya.

Untuk kebutuhan pakan, Juniadi menyebutkan bahwa dalam satu minggu, peternakannya menghabiskan sekitar 46 sak pakan, dengan berat masing-masing sak 50 kilogram.

Hasil produksi telur puyuh sebagian besar dipasarkan melalui pengepul atau broker yang kemudian mendistribusikannya ke luar daerah, terutama ke Jawa Barat. Menurutnya, pasar lokal Kebumen masih memiliki peluang besar, namun penyerapannya belum maksimal.

“Di Kebumen sebenarnya peluangnya besar, tapi penyerapan masih terbatas. Salah satunya karena belum semua dapur MBG (Makan Bergizi Gratis) memasukkan telur puyuh sebagai menu rutin. Padahal, jika dijadwalkan secara merata, penyerapan telur puyuh akan sangat membantu peternak,” katanya.

Ia berharap pemerintah pusat maupun daerah dapat mendorong agar telur puyuh masuk dalam agenda menu rutin di seluruh dapur MBG, sebagaimana yang pernah disampaikan Presiden.

Meski berstatus ASN, Juniadi mengaku tetap bisa membagi waktu dengan baik antara pekerjaan pemerintahan dan usaha. Ia menerapkan sistem manajemen dengan menunjuk orang-orang kepercayaan untuk mengelola usaha sehari-hari.

“Saya pantau lewat telepon dan video call. Waktu libur saya manfaatkan untuk turun langsung ke kandang dan mengembangkan usaha,” tuturnya.

Baginya, berwirausaha bukan hanya soal tambahan penghasilan, tetapi juga bagian dari hobi dan upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga.

“Walaupun ASN, saya ingin terus belajar dan mencoba peluang usaha. Ini untuk masa depan dan untuk meningkatkan taraf hidup keluarga,” pungkas Juniadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *