KEBUMEN, Kilaskebumen.com – Di balik jeruji besi Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Kebumen, denyut produktivitas terus berdetak palan namun pasti.

Bukan sekadar rutinitas pengisi waktu, aktivitas kerja warga binaan di tempat ini telah menjelma menjadi gerakan pembinaan kemandirian yang berdampak nyata.

Salah satu hasil nyatanya adalah produksi jaring cocomesh berbahan serat kelapa yang kini telah menembus pasar nasional hingga internasional, dengan pengiriman ke kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Nusa Tenggara Barat (NTB), bahkan ekspor hingga ke Qatar.

Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta mengatakan, cocomesh dikenal sebagai material ramah lingkungan yang berfungsi untuk pengendalian erosi, stabilisasi lereng, hingga reklamasi lahan pascatambang.

Seiring meningkatnya kesadaran terhadap pembangunan berkelanjutan dan konservasi lingkungan, permintaan cocomesh terus mengalami peningkatan, khususnya untuk proyek-proyek strategis nasional dan proyek konservasi di kawasan rawan longsor.

Pramu Sapta, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari pembinaan yang konsisten, terarah, dan berkesinambungan. Program kerja produktif pembuatan cocomesh telah berjalan selama beberapa waktu dengan melibatkan puluhan warga binaan yang dipilih melalui tahapan seleksi dan penilaian kedisiplinan.

“Warga binaan yang terlibat adalah mereka yang telah memenuhi syarat administratif, berperilaku baik, dan memiliki kemauan untuk belajar. Mereka tidak langsung dilepas bekerja, tetapi dibekali pelatihan terlebih dahulu agar hasil produksi memenuhi standar kualitas,” jelas Pramu Sapta dalam keterangan resminya, Jumat (26/12/2025).

Dalam proses produksinya, warga binaan dilatih mulai dari pemilahan dan pengolahan serat kelapa, teknik perajutan jaring, penguatan simpul, hingga tahap akhir berupa pengemasan. Seluruh proses dilakukan dengan pengawasan petugas serta pendampingan dari mitra kerja, sehingga kualitas cocomesh yang dihasilkan mampu bersaing di pasar.

Menurut Pramu, dalam kondisi normal, produksi cocomesh Rutan Kebumen mampu mencapai ratusan hingga ribuan meter persegi setiap bulan, tergantung pada permintaan dan ketersediaan bahan baku.

Produk tersebut kemudian didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk NTB yang membutuhkan cocomesh untuk rehabilitasi lahan, serta kawasan IKN yang tengah gencar membangun infrastruktur berbasis konsep ramah lingkungan.

“Bahkan, hasil produksi warga binaan Rutan Kebumen juga telah diekspor ke Qatar. Ini menjadi kebanggaan tersendiri, karena karya dari balik tembok rutan bisa digunakan di proyek-proyek internasional,” ungkapnya.

Tak hanya berorientasi pada produksi, program ini juga dirancang untuk memberikan manfaat ekonomi langsung kepada warga binaan. Rutan Kebumen menerapkan sistem premi atau upah kerja, yang diberikan secara adil dan transparan sesuai dengan jumlah serta kualitas hasil kerja masing-masing warga binaan.

“Premi ini bukan sekadar insentif finansial, tetapi bentuk penghargaan atas kerja keras, kedisiplinan, dan komitmen mereka mengikuti pembinaan. Kami ingin menanamkan nilai bahwa kerja yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan selalu menghasilkan sesuatu yang bermakna,” tegas Pramu Sapta.

Ia menambahkan, pemberian premi juga bertujuan melatih warga binaan dalam mengelola penghasilan secara bijak, sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri. Sebagian dari premi tersebut dapat ditabung sebagai bekal ketika mereka kembali ke masyarakat.

Lebih jauh, program pembinaan kemandirian ini sejalan dengan kebijakan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM RI, yang mendorong lembaga pemasyarakatan dan rutan untuk tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjalani pidana, tetapi juga sebagai pusat pembinaan sumber daya manusia.

Pendekatan tersebut menekankan pada perubahan pola pikir (mindset), pembentukan karakter, serta penguasaan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan demikian, warga binaan diharapkan tidak kembali terjerumus pada perbuatan melanggar hukum setelah bebas.

Salah satu warga binaan yang terlibat dalam produksi cocomesh, Dilan, mengaku bersyukur mendapatkan kesempatan mengikuti program tersebut. Baginya, bekerja di bengkel cocomesh bukan hanya tentang memperoleh premi, tetapi juga tentang menemukan kembali rasa percaya diri dan harapan akan masa depan.

“Awalnya saya tidak punya keterampilan apa-apa. Di sini saya belajar dari nol, mulai dari mengikat serat kelapa sampai jadi jaring yang rapi. Rasanya bangga ketika tahu hasil kerja kami dipakai untuk proyek besar, bahkan sampai ke luar negeri,” tutur Dilan.

Menurutnya, suasana kerja yang kondusif serta pendampingan dari petugas membuat warga binaan merasa dihargai sebagai manusia yang masih memiliki potensi. Hal tersebut menjadi dorongan kuat untuk berubah ke arah yang lebih baik.

“Dengan adanya kegiatan seperti ini, waktu kami terisi dengan hal positif. Saya jadi punya bekal kalau nanti sudah bebas. Mudah-mudahan bisa bekerja atau membuka usaha sendiri,” imbuhnya.

Keberhasilan produksi cocomesh Rutan Kebumen ini sekaligus menjadi potret transformasi wajah pemasyarakatan yang lebih humanis dan produktif. Dari tempat yang kerap dipandang negatif, rutan justru mampu melahirkan karya bernilai ekonomi tinggi sekaligus ramah lingkungan.

Di tengah tantangan pembangunan dan isu lingkungan yang semakin kompleks, kehadiran produk cocomesh hasil karya warga binaan ini menunjukkan bahwa pembinaan yang tepat dapat menghasilkan manfaat ganda: memberdayakan manusia sekaligus menjaga kelestarian alam.

Dengan terus berkembangnya permintaan dan perluasan pasar, Rutan Kebumen berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pembinaan serta kapasitas produksi, sehingga semakin banyak warga binaan yang dapat terlibat dan merasakan manfaatnya.

Harapannya, ketika masa pidana berakhir, mereka tidak hanya kembali sebagai warga bebas, tetapi juga sebagai pribadi yang mandiri, terampil, dan siap berkontribusi positif bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *