PURWOREJO, Kilaskebumen.com – Suasana berbeda tampak dalam kegiatan Haflah Akhirussanah dan Pelepasan Siswa Kelas XII Angkatan V MA Plus Riyadlul Muta’allimin Tahun Ajaran 2025/2026 yang digelar di Aula Area Pasar Menoreh, Desa Sedayu, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Sabtu (23/05/2026).

Madrasah yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Riyadlul Muta’allimin Mambang, Sehati, Desa Sedayu, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo itu hadir dengan konsep pendidikan terpadu yang mengombinasikan pendidikan madrasah, program unggulan Tahfidzul Qur’an, perpajakan, hingga pariwisata. Konsep tersebut dirancang untuk mencetak Generasi PrIMA, yakni generasi yang Profesional, Inovatif, Mandiri, dan Berakhlakul Karimah.

Acara pelepasan berlangsung meriah dengan nuansa budaya Jawa yang kental. Sepanjang kegiatan, alunan musik karawitan mengiringi prosesi pelepasan para siswa, dipadukan dengan penampilan seni tari serta Marom Voice dari ekstrakurikuler madrasah. Suasana haru juga terasa saat para siswa menjalani prosesi sungkem kepada orang tua sebagai bentuk bakti, penghormatan, dan ungkapan terima kasih atas perjuangan serta doa yang telah diberikan selama menempuh pendidikan.

Kegiatan tersebut dihadiri Camat Loano Vivin Suryandari Feriyani, S.STP., MM., perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Purworejo, Forkompincam Loano yakni perwakilan Danramil Loano dan Kapolsek Loano. Selain itu kepala desa, alim ulama, wali murid, serta sejumlah perwakilan sekolah di sekitar wilayah Loano, seperti SMP Negeri 29 Purworejo dan MTs Negeri 3 Purworejo.

Kepala MA Riyadlul Muta’allimin, Efrida Nofiyanto, S.Kom., menyampaikan, tahun ini sebanyak 61 siswa dinyatakan lulus seluruhnya. Dari jumlah tersebut, 16 siswa akan melanjutkan kuliah, sebagian lainnya bekerja, dan dua siswa memilih melanjutkan mondok.

“Alhamdulillah seluruh siswa lulus 100 persen. Yang kuliah akan kami salurkan ke program kuliah gratis, sedangkan yang bekerja akan kami arahkan ke sejumlah perusahaan yang sudah bekerja sama dengan kami,” katanya.

Ia menegaskan, MA Riyadlul Muta’allimin hadir dengan konsep pendidikan terpadu yang memadukan pendidikan madrasah, program Tahfidzul Qur’an, perpajakan, hingga pariwisata untuk mencetak Generasi PrIMA, yakni Profesional, Inovatif, Mandiri, dan Berakhlakul Karimah.

Menurutnya, madrasah tersebut juga menawarkan biaya pendidikan yang terjangkau. Pihak sekolah tidak membebankan uang gedung, sementara SPP hanya Rp100 ribu per bulan.

“Seragam juga kami berikan dalam bentuk dan pembayaran dapat dicicil selama satu tahun. Kami ingin pendidikan tetap bisa dijangkau masyarakat,” jelasnya.

Lanjutnya, dalam bidang keunggulan, MA Riyadlul Muta’allimin menekankan program Tahfidzul Qur’an. Tahun ini, terdapat dua siswa yang berhasil hafal 30 juz Al-Qur’an. Selain itu, madrasah juga membiasakan kegiatan religius seperti salat dhuha berjamaah dilanjutkan mujahadah, salat dhuhur berjamaah dilanjutkan tadarus Al-Qur’an dan penutupan untuk proses KBM salat ashar berjamaah setiap hari.

Tak hanya itu, madrasah tersebut juga memiliki program unggulan perpajakan yang disebut sebagai salah satu program langka di lingkungan madrasah di Indonesia. Program ini menjadi bekal keterampilan bagi siswa agar mampu bersaing di dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

“Kami ingin lulusan tidak hanya kuat secara agama, tetapi juga memiliki keterampilan dan kemandirian. Selain yang ingin langsung bekerja, kami juga mengarahkan siswa untuk melanjutkan kuliah melalui program kemandirian, yakni program pendidikan tinggi tanpa membebankan orang tua. Alhamdulillah, sudah ada satu alumni angkatan pertama yang lulus dan kini bekerja di Rumah Sakit Islam Purworejo. Tahun ini juga ada empat siswa yang lulus dan sedang kuliah di Yogyakarta, semuanya gratis dan tanpa membebani orang tua,” ujarnya.

Diungkapkan, untuk prestasi siswa MA Riyadlul Muta’allimin juga terus meningkat. Tahun ini mereka meraih juara MTQ tingkat Kecamatan Loano, juara 1 kategori konten kreatif dan juara 3 video lingkungan dalam Olimpiade Hayati di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, serta mendapatkan beasiswa tahfidz dari Yayasan Darussalam.

Saat ini, MA Riyadlul Muta’allimin juga telah membuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Pelajaran 2026/2027. Pendaftaran dibuka mulai 1 Januari hingga 11 Juli 2026.

Calon peserta didik dapat mendaftar langsung di Kantor MA Riyadlul Muta’allimin Mambang, Dusun Sehati RT 01 RW 04, Desa Sedayu, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo pada jam kerja. Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi panitia PPDB melalui kontak Drs. Kosim di 0812-2703-4178, Wahyu Dewi K., SH di 0858-1233-3237, dan Eka Ferawati, A.Md di 0821-4733-3215.

Efrida berharap para siswa yang lulus dapat terus melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dan meraih cita-cita mereka.

“Harapannya siswa-siswi yang lulus hari ini dapat melanjutkan pendidikan, baik yang ingin kuliah maupun bekerja bisa lebih sukses dan semangat lagi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, penggunaan tema karawitan dalam pelepasan siswa merupakan bentuk pelestarian budaya lokal yang masih kuat di wilayah Desa Sedayu.

“Di wilayah Sedayu ini sangat kental dengan budaya Jawa dan seni karawitan. Karena itu kami ingin menghidupkan kembali seni gamelan dan karawitan melalui kegiatan madrasah,” tambahnya.

Sementara itu, Camat Loano Vivin Suryandari Feriyani mengapresiasi konsep pelepasan siswa yang memadukan pendidikan agama dengan budaya lokal melalui pertunjukan karawitan.

“Ini sesuatu yang spesial. Biasanya pelepasan hanya diisi hiburan modern, tetapi di sini sepanjang acara diiringi musik karawitan live. Kolaborasi pendidikan agama dan budaya Jawa berjalan sangat baik,” tuturnya.

Ia juga berpesan kepada para lulusan agar terus melanjutkan pendidikan dan tidak terjebak dalam pernikahan dini.

“Saya sangat berharap anak-anak tetap melanjutkan pendidikan. Pendidikan akan menentukan masa depan dan keberhasilan mereka. Jangan sampai berhenti setelah SMA/SMK/MA apalagi menikah dini,” tegasnya.

Menurutnya, pernikahan dini berpotensi memicu berbagai persoalan sosial seperti perceraian hingga kekerasan dalam rumah tangga karena pasangan belum memiliki kesiapan ekonomi maupun mental.

“Generasi emas harus dimulai dari pendidikan yang baik. Orang tua harus mendukung anak-anak meraih cita-cita setinggi mungkin,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *