Bandung, Kilaskebumen.com — Penampilan seni tradisional Cowong dari Sanggar Seni Tradisional Cowong Bolosewu, Kebumen, menghadirkan nuansa sakral sekaligus memukau dalam gelaran “Ruwat Jagad Tolak Bala 2026” yang berlangsung di Padepokan Parukuyan, Minggu siang.
Acara tahunan yang dipimpin oleh Yon Suparman, atau yang akrab disapa Bah Yon, berlangsung meriah dan khidmat. Ritual ini tidak hanya menjadi tradisi spiritual, tetapi juga wadah pertemuan berbagai budaya Nusantara dalam satu harmoni.
Harmoni dalam Keberagaman
Suasana di lokasi mencerminkan kekayaan budaya Indonesia. Masyarakat lokal tampak mengenakan pakaian adat Sunda, sementara tamu dari berbagai daerah hadir dengan busana khas masing-masing.
Tokoh adat dengan hiasan kepala bulu khas Dayak turut hadir, bersama para praktisi pencak silat yang menunjukkan kebolehannya. Kehadiran tamu mancanegara yang mengenakan batik dan udeng menambah warna tersendiri dalam acara tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa filosofi “Ruwat Jagad”—yang bermakna merawat dan menjaga keseimbangan alam semesta—memiliki daya tarik universal yang melampaui batas budaya dan negara.
Ritual dan Pertunjukan Seni
Rangkaian acara diawali dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Bah Yon. Setelah itu, berbagai pertunjukan seni dari sejumlah daerah ditampilkan.
Salah satu penampilan yang paling mencuri perhatian adalah seni tradisional Cowong dari Kebumen. Pertunjukan diawali dengan tari Cepetan, tarian khas daerah tersebut, sebelum dilanjutkan dengan ritual Cowongan yang sarat nuansa mistis.
Dalam pertunjukan ini, boneka Cowong yang terbuat dari gayung batok kelapa tampak “hidup”. Boneka-boneka tersebut bergerak, menari, bahkan berputar secara dinamis. Beberapa di antaranya terlihat seolah-olah melayang, menciptakan suasana magis yang memukau penonton.
Wiji Winaras, pimpinan sanggar, menjelaskan bahwa efek tersebut merupakan perpaduan antara garapan artistik dan sentuhan magis. Ia juga mengungkapkan keterlibatan suaminya, Ki Jana Kabumian atau John Silombo, seorang magician yang turut memperkuat unsur pertunjukan.
Kehadiran Sanggar Cowong Bolosewu dalam acara ini merupakan undangan langsung dari pengasuh Padepokan Parukuyan. Pada penampilan sebelumnya, mereka berhasil memikat perhatian penonton, sehingga kembali dipercaya untuk tampil tahun ini.
Pesan Kedamaian
Dalam sambutannya, Bah Yon menegaskan bahwa inti dari ritual tolak bala adalah upaya membersihkan diri serta lingkungan dari energi negatif.
“Kehadiran berbagai budaya di sini adalah sebuah kekuatan. Kita merawat jagad ini bersama-sama tanpa memandang perbedaan, agar keselamatan selalu menyertai kita semua,” ujarnya.
Acara ditutup dengan ramah tamah dan sesi foto bersama, mencerminkan kehangatan antar tokoh lintas budaya. Padepokan Parukuyan kembali menjadi ruang pertemuan bagi para pecinta tradisi sekaligus simbol harapan akan kedamaian dunia.
